Dikejar Pocong

December 16th, 2009 by khairuddin Leave a reply »

Pernahkan anda dikejar pocong? Seperti apa sih rupa pocong? Apakah sama rasanya, dikejar target Mengembalikan Jati Diri Bangsa dan dikejar pocong? Kalau belum tahu rasanya, mari ikuti cerita saya tentang pocong.

Hari Jumat lalu tanteku meninggal secara mendadak di Salatiga. Sebelumnya beliau sihat-sihat saja. Tujuannya ke salatiga lantaran di Jakarta suaminya telah meninggal setengah tahun lalu, tepatnya di Depok, tempat dimana ia tinggal karena ingin menenangkan diri akibat permasalahan hidup yang terus menghimpit. Ia berseteru dengan anak-anaknya Om masalah warisan. Seperti diketahui, tanteku ini adalah isteri kedua si Om setelah isteri pertama Om meninggal. Dan si Om ini telah punya dua anak laki2 yang telah dewasa.

Setelah Om meninggal, keributan dalam rumah itu sering terjadi. Sebab secara pasti aku tidak tahu. Namun tersiar kabar bahwa tanteku ini ingin menjual rumah yang ditempati sekarang, lantaran rumah tante yang Pondok Hijau Ciputat (tempat tinggalku sekarang) dijual oleh Om sebelum mereka pindahan ke Depok. Tentu saja usul tanteku ini tidak ditanggapi oleh kedua anaknya om. Akhirnya mereka selalu berselisih masalah warisan rumah ini.

Puncaknya tanteku diusir dari sana bersama anak gadisnya yang berusia 20 tahun. Mereka memilih mengungsi ke Salatiga dirumah Ibu Sri yang masih kerabat dekat. Maksud beliau mengungsi disini karena ingin mencari ketenangan hidup disisa umurnya. Ibu Sripun tidak keberatan tanteku tinggal disini.

Namun sehari tiba disana, keesokan harinya, tanteku langsung meninggal tanpa sebab. Hanya pusing-pusing, lalu dibawa kerumah sakit terdekat, lalu tiba disana dirawat sebentar lalu meninggal.

Semua keluarga datang, terutama dari Madiun dan Ngawi. Kami sendiri tidak datang karena kabarnya sampai disini hari minggu. Karena mereka tidak mengetahui nomor hape kami (yang selalu berganti -ganti nomor, ada nomor cantik, langsung ngiler, dan nomor lama dimuseumkan, begitulah seterusnya).

Semalam, my wife dikejar-kejar pocong tanteku ini. Dia sangat ketakutan sekali. Ia berlari kesana kemari. Namun hantu pocong ini selalu mengikuti kemana ia pergi. Hingga disuatu tempat, ia menemukan jalan buntu. Toloooooooooooooooooooooooong.. My Wife menjerit minta tolong sekencang-kencangnya.

“Bu, ngapain sih malam-malam menjerit-jerit minta tolong?’, tanyaku setengah kaget lantaran sedang fokus menulis beberapa artikel untuk mendukung artikel Mengembalikan Jati Diri Bangsa yang sudah memasuki hari-hari terakhir.

“Aku dikejar-kejar pocong tante, mas”, jawabnya ketakutan. Ia segera memelukku. Tak lama kemudia aku mengambilkan segelas air putih.

“Minumlah!. Kamu barusan bermimpi. Mangkanya kalau tidur jangan lupa gosok gigi, cuci kaki, shlat tahajjud. Supaya terhindar dari mimpi-mimpi buruk”.

Aku kembali ke ruang kerja. Kembali melanjutkan beberapa desain iklan yang kejar tayang, sembari sesekali memberikan komentar2 diblog-blog sahabat dengan harapan mendapatkan backlink cantik untuk blog Mengembalikan Jati Diri Bangsa agar supaya ketika Major Google Update, blog tersebut bisa naik pangkat.

Malam ini posisi blog gus turun peringkat. Terlempar dua strip di halaman pertama google serp dengan kata kunci Mengembalikan Jati Diri Bangsa. Walah gan..gimana atuh.  Buruan dioptimasi lagi… Masak blogger gurem langsung lempar handuk siy? Bukankah semangat kita “Meski Gurem, namun pantang menyerah?

Yayaya.. aku tahu kita tidak boleh lupa kewajiban meski sedang fokus dalam optimasi. Karena optimasi yang dilakukan secara berlebihan dapat mengurangi porsi tugas yang lain. Jangan sampai kita Menjadikan Google Sebagai Berhala hanya demi menang lomba kontes Mengembalikan Jati Diri Bangsa. Na’u zubillahi min dzalik.

Advertisement

4 comments

  1. xtmxady xtmxady says:

    hmm, cerita hantu . . . . sep deh sob . . .

  2. khairuddin says:

    Tetap zemangat meski terSEOk-SEOk

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.
Login